Adakah Merah Putih Berkibar di Hati Mereka?
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
“Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita” (Hari Merdeka oleh H. Mutahar)
Lagu itu mulai mengalun di beberapa ruas jalan di sebuah kampung di sebuah kaki gunung di kota kecil, Wonogiri. Bukan tanpa rencana lagu itu diputar melainkan karena pada hari ini, Minggu, tanggal 9 Agustus 2009 akan ada beberapa kegiatan senada untuk memperingati HUT RI yang ke 64. Acaraa-acara itu dimotori oleh sekelompok remaja yang tergabung dalam sebuah organisasi tersebut Karang Taruna. Acara semacam ini terlaksana bukan dalam lingkup besar teteapi hanya seluas RT (Rukun Tetangga). Kebetulan saja waktu yang dipilih bersamaan di beberapa RT. Aku, termasuk dalam salah satunya.
Sejak pukul lima pagi tadi aku dan teman-temanku telah bersiap-siap di sebuah ruas jalan yang paling strategis untuk menjadi start kegiatan. Di sebuah ruas jalan yang cukup luas untuk kami melaksanakan beberapa lomba-lomba tradisional. Ini sudah tradisi bagi kami untuk setiap tahun mengadakan peringatan HUT RI dalam bentuk seperti ini. Bukan kegiatan yang luar biasa memang. Tapi kegiatan ini kami anggap sebagai salah satu cara untuk terus mengibarkan merah putih di hati warga sekitar kami. Baik bagi mereka yang telah dewasa, yang baru menginjak usia remaja, maupun yang masih kanak-kanak. Sekalipun itu hanya sehari dalam setahun.
Sejenak aku termenung mendengar deretan-deretan lagu kebangsaan yang terus berputar di mp3 player. Tiba-tiba saja muncul slide-slide masa lalu ketika aku masih anak-anak. Ketika aku masih terdaftar sebagai peserta lomba. Waktu itu aku selalu bersemangat untuk mengikuti setiap perlombaan. Bukan sekali dua kali aku pulang dengan tangan hampa, tanpa kemenangan. Tapi semangatku untuk mengikuti lomba setiap tahunnya tak pernah surut. Pernah ada seorang anggota karang taruna yang memberiku hadiah secara khusus. Mungkin karena kasihan padaku yang jarang mendapat juara. Meski aku mendapat hadiah tanpa alasan yang jelas tapi aku merasa senang bukan kepalang. Namanya juga anak-anak. Saat aku tengah asik memutar slide-slide memoriku, tiba-tiba seorang temanku mengajak ke pasar. Katanya ada beberapa perlengkapan yang belum sempat terbeli kemarin. Karena letak pasar yang tak terlalu jauh dan hari masih pagi, kami memilih pergi berjalan kaki. Sambil pemanasan, pikir kami.
Hari Minggu pasar memang selalu lebih ramai. Pedagang-pedagang mulai memenuhi tepi jalan. Umumnya mereka adalah penjaja makanan. Mereka hanya buka beberapa jam saja. Ada penjual serabi, penjual bubur ayam, penjual bubur kacang hijau, ataupun pedagang gorengan. Target pembeli mereka adalah orang-orang yang berolahraga pagi. Alih-alih menunggu temanku berbelanja aku memperhatikan deretan-deretan pedagang makanan itu. Hampir tak ada pedagang yang hanya duduk-duduk menunggui jajanan mereka. Semua sibuk melayani pembeli. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan dalam hatiku, apakah mereka rela meninggalkan langganan-langganan mereka sehari saja dalam setahun untuk bergabung dalam sebuah peringatan HUT RI seperti yang sedang aku persiapkan saat ini? Pertanyaan yang lain pun mulai muncul. Apa yang mereka pikirkan ketika melihat toko-toko berhias merah putih dan di tepi-tepi jalan berdiri umbul-umbul berwarna merah putih pula? Pernahkan terbersit di pikiran mereka mengenai cerita tentang merah putih yang kini bisa berkibar dengan gagahnya? Entahlah, aku tak tahu jawabannya dan aku pun tak mencoba mencari tahu. Karena telah kuperkirakan bahwa yang ada di benak mereka pagi ini adalah bagaimana caranya agar semua dagangan mereka habis terjual.
Setelah temanku selesai berbelanja, kami segera pulang untuk melanjutkan persiapan. Aku usulkan untuk melalui jalan raya. Waktu temanku bertanya kenapa, aku hanya menjawab bahwa aku ingin melihat meriahnyajalan raya di pagi hari. Setelah beberapa waktu lalu trotoar-trotoar jalan ini dipenuhi oleh pamflet, baliho, dan bendera partai kini semua berganti menjadi sepasang warna penuh makna, merah dan putih. Suasana yang sungguh lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan melihat foto-foto orang yang narsis memilih dirinya sendiri. Masih menikmati merah putih, aku melihat beberapa gelandangan masih tiduran di sebuah emper toko. Kembali sebuah pertanyaan muncul dalam benakku. Adakah merah putih berkibar di hati mereka? Pernahkah mereka merenungkan tentang warna merah dan putih di atas kepala mereka, di langit-langit toko, yang berkibar-kibar tertiup angin? Setahuku yang ada dalam benak mereka sekarang ini adalah bagaimana hari ini perut mereka tidak keroncongan. Aku tetap berharap bahwa tak hanya itu yang ada dalam benak mereka.
Setibanya di tempat kegiatan, banyak warga yang telah berkumpul. Anak-anak kecil berdesakan mendaftarakan diri mereka untuk mengikuti lomba. Para orang tua duduk-duduk sambil mengobrol satu sama lain, menunggu acara segera dimulai. Beberapa dari mereka telah bersiap di garis start karena acara yang pertama adalah jalan sehat. Senang rasanya melihat mereka berkumpul tanpa terbatas usia. Semua berkumpul dalam satu waktu di suatu tempat untuk satu acara, memperingati HUT RI ke 64. Perlukah aku pertanyakan pula, adakah merah putih berkibar di hati mereka? Meski hanya hari ini di tahun ini?
